educationforall

Pertemuan 9,10,12 & 13

INOVASI DALAM SARANA DAN PRASARANA

Pelaksanaan pendidikan nasional harus menjamin pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di tengah perubahan global agar warga Indonesia menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, produktif, dan berdaya saing tinggi dalam pergaulan nasional maupun internasional. Untuk menjamin tercapainya tujuan pendidikan tersebut, Pemerintah telah mengamanatkan penyusunan delapan standar nasional pendidikan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Standar nasional pendidikan adalah kriteria minimum tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan nasional berpusat pada peserta didik agar dapat:

(a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

(b) belajar untuk memahami dan menghayati,

(c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,

(d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan

(e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Untuk menjamin terwujudnya hal tersebut diperlukan adanya sarana dan prasarana yang memadai. Sarana dan prasarana yang memadai tersebut harus memenuhi ketentuan minimum yang ditetapkan dalam standar sarana dan prasarana.Standar sarana dan prasarana ini untuk lingkup pendidikan formal, jenis pendidikan umum, jenjang pendidikan dasar dan menengah yaitu: Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Standar sarana dan prasarana ini mencakup:

1. kriteria minimum sarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan komunikasi, serta perlengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah,

2. kriteria minimum prasarana yang terdiri dari lahan, bangunan, ruang-ruang, dan instalasi daya dan jasa yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah.

PENGERTIAN

a.       Sarana adalah perlengkapan pembelajaran yang dapat dipindah-pindah.

b.      Prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah.

c.       Perabot adalah sarana pengisi ruang.

d.      Peralatan pendidikan adalah sarana yang secara langsung digunakan untuk pembelajaran.

e.      Media pendidikan adalah peralatan pendidikan yang digunakan untuk membantu komunikasi dalam pembelajaran.

f.        Buku adalah karya tulis yang diterbitkan sebagai sumber belajar.

g.      Buku teks pelajaran adalah buku pelajaran yang menjadi pegangan peserta didik dan guru untuk setiap mata pelajaran.

h.      Buku pengayaan adalah buku untuk memperkaya pengetahuan peserta didik dan guru.

i.         Buku referensi adalah buku rujukan untuk mencari informasi atau data tertentu.

j.         Sumber belajar lainnya adalah sumber informasi dalam bentuk selain buku meliputi jurnal, majalah, surat kabar, poster, situs (website), dan compact disk.

k.       Bahan habis pakai adalah barang yang digunakan dan habis dalam waktu relatif singkat.

l.         Perlengkapan lain adalah alat mesin kantor dan peralatan tambahan yang digunakan untuk mendukung fungsi sekolah/madrasah.

m.    Teknologi informasi dan komunikasi adalah satuan perangkat keras dan lunak yang berkaitan dengan akses dan pengelolaan informasi dan komunikasi.

n.      Lahan adalah bidang permukaan tanah yang di atasnya terdapat prasarana sekolah/madrasah meliputi bangunan, lahan praktik, lahan untuk prasarana penunjang, dan lahan pertamanan.

o.      Bangunan adalah gedung yang digunakan untuk menjalankan fungsi sekolah/madrasah.

p.      Ruang kelas adalah ruang untuk pembelajaran teori dan praktik yang tidak memerlukan peralatan khusus.

q.      Ruang perpustakaan adalah ruang untuk menyimpan dan memperoleh informasi dari berbagai jenis bahan pustaka.

r.        Ruang laboratorium adalah ruang untuk pembelajaran secara praktik yang memerlukan peralatan khusus.

s.       Ruang pimpinan adalah ruang untuk pimpinan melakukan kegiatan pengelolaan sekolah/madrasah.

t.        Ruang guru adalah ruang untuk guru bekerja di luar kelas, beristirahat, dan menerima tamu. 21. Ruang tata usaha adalah ruang untuk pengelolaan administrasi sekolah/madrasah.

u.      Ruang konseling adalah ruang untuk peserta didik mendapatkan layanan konseling dari konselor berkaitan dengan pengembangan pribadi, sosial, belajar, dan karir.

v.       Ruang UKS adalah ruang untuk menangani peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan dini dan ringan di sekolah/madrasah.

w.    Tempat beribadah adalah tempat warga sekolah/madrasah melakukan ibadah yang diwajibkan oleh agama masing-masing pada waktu sekolah.

x.      Ruang organisasi kesiswaan adalah ruang untuk melakukan kegiatan kesekretariatan pengelolaan organisasi peserta didik.

y.       Jamban adalah ruang untuk buang air besar dan/atau kecil.

z.       Gudang adalah ruang untuk menyimpan peralatan pembelajaran di luar kelas, peralatan sekolah/madrasah yang tidak/belum berfungsi, dan arsip sekolah/madrasah.

aa.   Ruang sirkulasi adalah ruang penghubung antar bagian bangunan sekolah/madrasah.

bb.  Tempat berolahraga adalah ruang terbuka atau tertutup yang dilengkapi dengan sarana untuk melakukan pendidikan jasmani dan olah raga.

cc.   Tempat bermain adalah ruang terbuka atau tertutup untuk peserta didik dapat melakukan kegiatan bebas.

dd.  Rombongan belajar adalah kelompok peserta didik yang terdaftar pada satu satuan kelas.


PRASANA SEKOLAH

Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:

a.       ruang kelas,

b.      ruang perpustakaan,

c.       laboratorium IPA,

d.      ruang pimpinan,

e.      ruang guru,

f.        tempat beribadah,

g.      ruang UKS,8. jamban,

h.      gudang,

i.         ruang sirkulasi,

j.         tempat bermain/berolahraga.

Sebuah SMP/MTs sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:

a.       ruang kelas,

b.      ruang perpustakaan,

c.       ruang laboratorium IPA,

d.      ruang pimpinan,

e.      ruang guru,

f.        ruang tata usaha,

g.      tempat beribadah,

h.      ruang konseling,

i.         ruang UKS,

j.         ruang organisasi kesiswaan,

k.       jamban,

l.         gudang,

m.    ruang sirkulasi,

n.      tempat bermain/berolahraga.

Sebuah SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:

a.       ruang kelas,

b.      ruang perpustakaan,

c.       ruang laboratorium biologi,

d.      ruang laboratorium fisika,

e.      ruang laboratorium kimia,

f.        ruang laboratorium komputer,

g.      ruang laboratorium bahasa,

h.      ruang pimpinan,

i.         ruang guru,

j.         ruang tata usaha,

k.       tempat beribadah,

l.         ruang konseling,

m.    ruang UKS,

n.      ruang organisasi kesiswaan,

o.      jamban,

p.      gudang,

q.      ruang sirkulasi,

r.        tempat bermain/berolahraga

INOVASI DALAM KETENAGAAN

Banyaknya inovasi yang dilakukan oleh guru (tenaga pendidik) dengan berbagai alat peraga murah guna mendukung proses belajar mengajar, diantaranya yakni sebagai berikut:

a.         Abdul Azis Mappata,Guru MI Yaspi Sambungjawa Makassar

Musim kemarau berkaitan erat dengan kekeringan dan krisis. Jangankan minyak, air saja mengalami krisis. Kondisi tersebut tidak melemahkan kreatifitas guru MI Yaspi Sambungjawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar (binaan DBE2-USAID) untuk membuat alat peraga yang murah atau tidak perlu mahal, bernama “Aku Butuh Air”, buah karya Abdul Azis Mappata,salah seorang guru di sekolah itu. Sebagai guru kelas awal yang melakukan pembelajaran tematik di kelas III, beliau memanfaatkan barang atau bahan bekas untuk dijadikan alat peraga, yang bertujuan agar murid-muridnya dapat mengetahui bahwa semua mahluk hidup membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya.

Alat dan bahan : gunting,pulpen/spidol,kardus,kawat,pipet,kaleng bekas (kaleng susu frisian flag) ,benang,bambu kecil,ember cat.

Cara Pembuatan : Buat motif daun pada kardus (ini dapat diganti dengan  daun yang asli dan mudah didapatkan, seperti daun Mangga). Tempelken pipet pada bagian bawah daun. Ikat kawat pada bambu untuk menempelkan daun. Ikat benang pada ujung tangkai daun kemudian hubungkan ke kaleng. Tempelkan bambu ke kaleng cat bekas sebagai penyangga pohon. Isi air di dalam kaleng bekas tadi,maka daun akan terlihat segar atau bergerak seolah sedang mekar.

Kegunaan Alat : untuk membuktikan bahwa tumbuhan adalah makhluk hidup yang memerlukan air (Tema Lingkungan).

b.         Mallarangan

Naiknya harga bahan pokok, bahan bakar minyak dan barang-barang kebutuhan lainnya, tidak membuat gundah sebagaian guru di Gugus 1 Mamajang Kota Makassar, dalam merancang dan menyiapkan Alat Peraga Murah (APM) dengan memanfaatkan barang/bahan bekas dan lingkungan sekitar sebagai sumber dan bahan belajar. Mata Pelajaran Sains/IPA memberikan banyak inspirasi untuk menciptakan sumber energi alternatif,seperti energi listrik dan cahaya yang sangat efektif membantu guru membelajarkan siswa-siswanya. Guru-guru SD Muhammadiyah II Mamajang sebagai salah satu binaan DBE 2, membuat ALat Peraga Sains yang murah, bernama “Baterai Jeruk” dalam ajang KKG II Paket Pembelajaran Sains yang berlangsung tanggal 6 dan 7 Agustus 2008.

Alat dan Bahan : Jeruk nipis 5 biji. Lempeng seng ukuran 5 cm x 0,5 cm sebanyak 5 lembar. Lempeng tembaga 5 batang ukuran 5 cm x 0,5 cm. Kabel halus. Lampu LED

Cara kerja : Setiap jeruk ditusuk 4 lempeng seng,yang berfungsi sebagai kutub negatif (-),dan satu lempeng tembaga yang berfungsi sebagai kutub positif (+), dalam satu belahan yang sama pada jeruk. Lempeng seng pada jeruk yang satu dihubungkn dengan lempeng tembaga pada jeruk yang lain melalui kabel kecil. Hubungkan dengan lampu LED.

Hasil/kegunannya: Lampu akan menyala dan menunjukkan atau membuktikan sumber energi listik.

c.       Alat peraga ini diproduksi oleh : Bapak Muhasim (LRC), Marno (Ketua PSBG), Warsono (PBS1), Anisa Yuliyanto (PBS2).

Artikel Alat Peraga Murah (APM) kali ini datang dari PSBG Kendalisada, Kec. Gebang, Kab. Purworejo, Jawa Tengah. Alat peraga ini bernama “Cara Kerja Lensa Mata”, yang berguna untuk menjelaskan prinsip dan cara kerja lensa mata kepada para anak didik.

Bahan yang dibutuhkan : Papan (1 lembar), Pipa paralon, Balon (warna bening), Tripleks berlapis melamin, Plastisin (malam), Lilin, Karet selang (karet ketapel), Suntikan.

Cara pembuatan : Papan dibentuk siku-siku. Paralon bekas dipotong sepanjang 4 cm. Pada bagian atas potongan paralon dilubangi sebesar sedotan gelas air minum mineral. Masukkan potongan paralon kedalam balon. Isi balon dengan air (kira-kira 90%). Sambung sedotan aqua dengan pentil, pasang pula suntikan bekas di ujung yang satunya

Cara penggunaan : Isi air pada lensa sampai penuh. Lalu nyalakan lilin. Pompalah air menggunakan suntikan sehingga balon akan keliatan mengembang dan mengempis. Amati perubahan yang terjadi.

d.        Mallarangan

Di Bulan Juli dan Agustus 2008 ini diberbagai sudut kota Makassar, terutama malam hari pemadaman listrik secara bergilir dilakukan. Pemerintah mengumumkan krisis energi listik, sehingga gerakan hemat listrik digalakkan. Krisis energi listrik turut menambah daftar panjang krisis yang menimpa negeri ini, termasuk krisis bahan bakar minyak. Pusat Sumber Belajar Gugus “Karya Mandiri Guru” Gugus 1 Mamajang, menginventaris beberapa Alat Peraga Murah (APM) yang dibuat oleh guru-guru binaan DBE2. Alhasil guru-guru SD Kartika Wirabuana 1 menyumbangkan ide kreatif membuat pelita sederhana yang berfungsi ganda,selain sebagai alat peraga sains penerapan prinsip kapilaritas,juga berfungsi sebagai alat penerang alternaif dengan mendaur ulang bahan-bahan bekas dan memanfaatkan bahan bakar alternatif yang murah dan hemat energi, apalagi saat terjadi pemadaman listrik secara bergilir. Anda ingin mencoba?

Alat dan Bahan : Tutup botol,paku,palu,piring aluminium,kapas,korak api,minyak goreng bekas.

Cara Pembuatan : Siapkan alat dan bahan. Lubangi tutup botol dengan menggunakan paku. Masukkan ujung kapas ke dalam lubang tutup botol,sisakan sebagaian kapas di bagian bawah dari tutup botol. Tuangkan minyak kelapa bekas yang tidak terpakai lagi pada piring aluminium. Letakkan tutup botol tersebut di atas piring. Bakarlah kapas yang berada pada bagian alas dari tutup botol. Amati apa yang terjadi.

e.       Bambang Tirto Widjojo, S.Pd Mendemokan Menara Keberhasilan Matematika

Sedati, selama ini banyak murid yang beranggapan bahwa mata pelajaran matematika adalah momok yang menakutkan. Tetapi untuk saat ini, hal itu tidak perlu ditakutkan lagi. Bapak Bambang Tirto Widjojo, S.Pd, seorang guru matematika SD Negeri Sedatigede II telah menemukan inovasi baru untuk memberi semangat bagi siswa-siswinya dalam belajar matematika.

Proses pembelajaran matematika tak semudah membalik telapak tangan, seringkali kendala utama yang dialami siswa adalah tidak adanya semangat untuk belajar dan berlatih mengerjakan soal-soal dalam mengaplikasikan rumus matematika, sehingga mereka merasa sangat kesulitan.

Dari fenomena yang terjadi ini, Bapak Bambang Tirto Widjojo, S.Pd membuat menara keberhasilan matematika, untuk memberi semangat dan motivasi bagi siswa-siswinya.

Menara Keberhasilan Matematika terbuat dari rangkaian kayu tabung yang dikaitkan dengan simpul-simpul benang menjadi sebuah bentuk menara segitiga. Salah satu komponen dalam menara tersebut, terdapat tangga keberhasilan. Dimana setiap anak tangga terdapat tingkatan soal yang diberikan kepada siswa, dari yang paling mudah sampai pada tingkatan soal yang paling sulit. Untuk mencapai puncak keberhasilan, siswa harus melaluinya dengan tes (syarat kecakapan umum) pada setiap anak tangga tersebut, dengan mengerjakan soal-soal dari masing-masing anak tangga.

Inspirasi pembuatan menara keberhasilan matematika ini mengadopsi dari kegiatan pendidikan kepramukaan.

f.          Alat ini diproduksi oleh : Muhajir, S.Ag (LRC), Suparyati, A.Ma Pd (Ketua PSBG), Kasturi (PBS 1) dan Hj. Rustiyati (PBS 2)

Alat Peraga Murah (APM) bernama Pendeteksi Nikotin ini diproduksi oleh PSBG Ki Hajar Dewantara, Kec. Wonosalam, Kab. Demak, Jawa Tengah. Alat peraga ini bermanfaat untuk menunjukkan ke peserta didik akan bahaya racun tembakau (nikotin).

Bahan yang dibutuhkan : Toples plasteik kecil, 2 buah selang plastik seukuran rokok, kapas, lem plastik dan paku besar untuk melubangi plastik serta alat lain yang relevan.

Cara membuat : Tutup plastik dilubangi sebesar selang, lalu pasang lubang pada lobang tersebut, jangan lupa di-lem supaya rapat. Masukkan kapas pada plastik.

Cara penggunaan : Pasang rokok pada salah satu ujung selang, kemudian gunakan ujung selang yang lain untuk menghisapnya. Amati kapas yang ada pada toples plastik dan catat apa yang terjadi. Tampak kapas berwarna kekuning-kuningan, warna kuning itulah yang merupakan Nikotin.

Bahwa dalam inovasi ketenagaan dibutuhkan suatu usaha dengan sungguh-sungguh, agar suatu implementasi belajar mengjar dapat berjalan dengan baik. Jika kita lihat berbagai alat peraga murah tersebut, hal itu merupakan suatu inovasi yang dikeluarkan oleh para guru (tenaga pendidik) untuk menunjang proses belajar mengajar yang mereka jalani di kelas. Penemuan-penemuan inovasi yang ditemukan oleh para tenaga pendidik tesebut bisa memperlihatkan kepada peserta didik, bahwa setiap permasalahan yang ada bisa kita selesaikannya jika kita mau berusaha. Setiap inovasi yang dimunculkan oleh tenaga pendidik tersebut, bisa menjadi acuan atau motivasi untuk peserta didik agar bisa berusaha dan bisa mengikuti jejak para tenaga pendidik untuk menemukan sebuah inovasi yang berguna. Sehingga, dalam hal ini inovasi dalam ketenagaan harus menjadi dampak yang baik bagi peserta didik agar peserta didik menjadi aktif dan tidak merasa jenuh dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, suatu inovasi dalam ketenagaan sangat berperan dalam dunia belajar mengajar.

INOVASI DALAM ICT

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information and Communication Technologies (ICT), adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21 TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya.

Ada beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi sumbangan terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Pertama yaitu temuan telepon oleh Alexander Graham Bell pada tahun 1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan kabel yang meliputi seluruh daratan Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun 19101920, terwujud sebuah transmisi suara tanpa kabel melalui siaran radio AM yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian diikuti pula oleh transmisi audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran televisi pada tahun 1940-an. Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun 1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi komponen elektronik melalui penemuan transistor pada tahun 1947 dan rangkaian terpadu (integrated electronics) pada tahun 1957. Perkembangan teknologi elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era Perang Dingin. Persaingan IPTEK antara blok Barat (Amerika Serikat) dan blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya miniaturisasi rangkaian elektronik untuk pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan mikroprosesor. Mikroprosesor inilah yang menjadi ‘otak’ perangkat keras komputer dan terus berevolusi sampai saat ini. Perangkat telekomunikasi berkembang pesat saat teknologi digital mulai digunakan menggantikan teknologi analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya. Digitalisasi perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi digital. Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam bentuk telepon seluler. Di atas infrastruktur telekomunikasi dan komputasi ini kandungan isi (content) berupa multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi telekomunikasi – komputasi multimedia inilah yang menjadi ciri abad ke-21, sebagaimana abad ke-18 dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri menjadikan mesin-mesin sebagai pengganti ‘otot’ manusia, maka revolusi digital (karena konvergensi telekomunikasi – komputasi multimedia terjadi melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) ‘otak’ manusia.

Indonesia pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk arti yang kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini. Encarta Dictionary mendeskripsikan telematics sebagai telecommunication + informatics (telekomunikasi + informatika) meskipun sebelumnya kata itu bermakna science of data transmission. Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk salah satunya bidang pendidikan. Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan sebagainya. Awalan e bermakna electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital. Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di Indonesia telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Inisiatif menyelenggarakan siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan merupakan upaya melakukan penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara. Hal ini adalah wujud dari kesadaran untuk mengoptimalkan pendayagunaan teknologi dalam membantu proses pembelajaran masyarakat. Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan adalah tidak adanya feedback yang seketika. Siaran bersifat searah yaitu dari narasumber atau fasilitator kepada pembelajar. Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan gambar bergerak) memberikan peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih jika materi tayangannya adalah materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed). Pembelajaran berbasis Internet memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi Internet memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer. Selain aplikasi unggulan seperti itu, beberapa peluang lain yang lebih sederhana dan lebih murah juga dapat dikembangkan sejalan dengan kemajuan TIK saat ini.

Buku elektronik atau e-book adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis. Dalam sebuah e-book dapat diintegrasikan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, maupun movie sehingga informasi yang disajikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional. Jenis e-book paling sederhana adalah yang sekedar memindahkan buku konvensional menjadi bentuk elektronik yang ditayangkan oleh komputer. Dengan teknologi ini, ratusan buku dapat disimpan dalam satu keping CD atau compact disk (kapasitas sekitar 700MB), DVD atau digital versatile disk (kapasitas 4,7 sampai 8,5 GB) maupun flashdisk (saat ini kapasitas yang tersedia sampai 16 GB). Bentuk yang lebih kompleks dan memerlukan rancangan yang lebih cermat misalnya pada Microsoft Encarta dan Encyclopedia Britannica yang merupakan ensiklopedi dalam format multimedia. Format multimedia memungkinkan e-book menyediakan tidak saja informasi tertulis tetapi juga suara, gambar, movie dan unsur multimedia lainnya. Penjelasan tentang satu jenis musik misalnya, dapat disertai dengan cuplikan suara jenis musik tersebut sehingga pengguna dapat dengan jelas memahami apa yang dimaksud oleh penyaji.

a.         E-learning

Beragam definisi dapat ditemukan untuk e-learning. Victoria L. Tinio, misalnya, menyatakan bahwa e-learning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, formal maupun nonformal, yang menggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan/atau fasilitasi. Untuk pembelajaran yang sebagian prosesnya berlangsung dengan bantuan jaringan internet sering disebut sebagai online learning. Definisi yang lebih luas dikemukakan pada working paper SEAMOLEC, yakni e-learning adalah pembelajaran melalui jasa elektronik. Meski beragam definisi namun pada dasarnya disetujui bahwa e-learning adalah pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi elektronik sebagai sarana penyajian dan distribusi informasi. Dalam definisi tersebut tercakup siaran radio maupun televisi pendidikan sebagai salah satu bentuk e-learning. Meskipun radio dan televisi pendidikan adalah salah satu bentuk e-learning, pada umumnya disepakati bahwa e-learning mencapai bentuk puncaknya setelah bersinergi dengan teknologi internet. Internet-based learning atau web-based learning dalam bentuk paling sederhana adalah website yang dimanfaatkan untuk menyajikan materi-materi pembelajaran. Cara ini memungkinkan pembelajar mengakses sumber belajar yang disediakan oleh narasumber atau fasilitator kapanpun dikehendaki. Bila diperlukan dapat pula disediakan mailing list khusus untuk situs pembelajaran tersebut yang berfungsi sebagai forum diskusi. Fasilitas e-learning yang lengkap disediakan oleh perangkat lunak khusus yang disebut perangkat lunak pengelola pembelajaran atau LMS (learning management system). LMS mutakhir berjalan berbasis teknologi internet sehingga dapat diakses dari manapun selama tersedia akses ke internet. Fasilitas yang disediakan meliputi pengelolaan siswa atau peserta didik, pengelolaan materi pembelajaran, pengelolaan proses pembelajaran termasuk pengelolaan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan komunikasi antara pembelajar dengan fasilitator-fasilitatornya. Fasilitas ini memungkinkan kegiatan belajar dikelola tanpa adanya tatap muka langsung di antara pihak-pihak yang terlibat (administrator, fasilitator, peserta didik atau pembelajar). ‘Kehadiran’ pihak-pihak yang terlibat diwakili oleh e-mail, kanal chatting, atau melalui video conference.

Bahwa pada zaman yang modern ini, sebuah teknologi sangat diperlukan bagi kehiduan di lingkungan kita. Mempelajari ICT dalam dunia pendidikan atau di dalam sebuah organisasi, memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi dan informasi di dalam pendidikan atau dunia di dalam organisasi. Inovasi seperti ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terutama di dalam suatu teknologi dan informasi di masa yang akan datang.

E-PORTOFOLIO

Portofolio elektronik, selanjutnya disingkat e-portofolio, adalah koleksi digital artifakartifak yang merepresentasikan indivisual, kelompok, komunitas, organisasi, atau institusi (Lorenzo & Ittelson, 2005). Koleksi ini dapat diletakkan pada media cakram padat (CD atau DVD) maupun web. Pada saat ini World Wide Web (WWW) telah mempermudah berbagai pekerjaan, termasuk dalam pendidikan. Hypertext markup language (HTML) menyokong hyperlinking, termasuk membuat bentuk web. Bentuk web mudah dibuat, diedit, disimpan, dan ditayangkan. Web dapat menyokong pembelajaran dengan berbagai macam cara. Bentuk web dapat meniadakan kertas dalam asesmen tertulis.

Contoh sistem e-portofolio adalah PebblePAD, suatu siitem e-portofolio yang dikembangkan oleh Universitas Wolverhampton dengan Pebble Learning (Orsini-Jones dan De, 2007). Sistem ini memungkinkan siswa (dan staf) membangun koleksi karyanya yang berkaitan dengan studinya, pengembangan diri, pengembangan profesional berkelanjutan, atau berbagai kejadian yang signifikan secara personal. Sistem ini menyediakan berbagai form masukan yang terstruktur yang dirancang untuk mengakomodasi rekaman/catatan berbagai keterampilan, pengalaman, dan refleksi. Rekaman dan file ini selanjutnya dimasukkan dalam webfolio (website personal) yang dapat dibagi dengan audiens eksternal sehingga memfasilitasi umpan balik dan asesmen. PebblePAD memfasilitasi refleksi dan ‘metarefleksi’, dalam bentuk seksi experience, reflection, conclusion, and planning.

E-Portofolio ini sangat berguna dan bermanfaat untuk para pendidik maupun untuk siswa itu sendiri. Dengan e-portofolio, menurut Kersten (dalam Hyndman dan Hyndman, 2005), bahwa e-portofolio itu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengaplikasikan keterampilan teknologi yang dipelajari secara mandiri dan hal ini membuatnya percaya diri, penerapan teknologi dalam pengintegrasian karya siswa akan memandu pembelajaran selanjutnya, e-portofolio menyediakan audiens autentik saat siswa mempublikasikannya ke web, dan e-portofolio menyediakan sarana unik bagi siswa untuk memperkenalkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, sebuah e-portofolio sangat dibutuhkan oleh setiap golongan, agar mudah dalam mengakses data-data yang telah kita simpan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: